Pada suatu hari, seorang pemuda yang bernama Daniel terlibat dalam
kecelakaan. Dia ditabrak oleh sebuah taksi di sebuah jalan raya.
Akibat
dari kecelakaan itu dia cedera parah. Kepalanya luka, tangannya patah
dan perutnya terburai. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menemukan
bahwa sakitnya terlalu parah dan memperkirakan dia tidak ada harapan
lagi untuk hidup. Ibunya, segera dihubungi dan diberitahu tentang
kecelakaan yang menimpa anaknya.
Hampir pingsan sang Ibu
mendengar berita tentang anaknya itu. Dia segera bergegas ke rumah sakit
tempat anaknya dirawat. Berlinang air mata ibu melihat kondisi anaknya.
Meskipun telah diberitahu bahwa anaknya sudah tiada harapan lagi untuk
diselamatkan, Ibu ini tetap tidak henti-hentinya berdoa dan memohon
kepada Tuhan agar anaknya itu selamat.
Hari berganti minggu,
minggu berganti bulan, kondisi Daniel tidak banyak berubah. Saban hari
sang Ibu menunggui anaknya itu tanpa jemu. Saban malam pula Ibu itu
terbangun mendaraskan doa memohon keselamatan anaknya. Dalam keheningan
malam, sambil berlinangan air mata, sang Ibu merintih meminta agar
anaknya disembuhkan.
Keyakinan sang Ibu terhadap kekuasaan Allah
sangat kuat meskipun tubuh anaknya hancur cedera dan dikatakan sudah
tidak ada harapan lagi untuk hidup. Namun, Allah benar-benar mau
menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya.
Setelah 5 bulan
terlantar, mukjizat itu pun terjadi, atas doa doa seorang ibu yang tak
pernah putus, akhirnya Daniel menampakkan tanda-tanda kesembuhan dan
akhirnya dia sembuh sepenuhnya. Berkat doa seorang ibu yang ikhlas.
Daniel dapat terus hidup sampai berumah tangga dan mempunyai anak. Ibunya, seorang janda semakin hari semakin tua dan uzur.
Suatu
hari, sang Ibu yang berusia hampir 75 tahun jatuh sakit dan masuk rumah
sakit. Awalnya, Daniel masih mengunjungi dan menjaga ibunya di rumah
sakit. Tetapi semakin hari semakin jarang dia datang menjenguk ibunya
sampai pada suatu hari pihak rumah sakit menghubunginya untuk
memberitahukan kondisi ibunya yang semakin parah.
Daniel segera
bergegas ke rumah sakit. Di situ, Daniel menemukan kondisi ibunya
semakin lemah. Nafas ibunya turun naik. Dokter memberitahu bahwa ibunya
sudah tidak ada waktu yang lama untuk hidup. Ibunya bisa saja setiap
saat menghembuskan napasnya yang terakhir.
Melihat kondisi ibunya
yang demikian dan konon beranggapan ibunya sedang tersiksa, lantas
Daniel terus menadah tangan dan berdoa seperti ini, "Ya Allah,
seandainya dia Engkau panggil menghadapMu lebih baik untuk ibu, maka
Engkau panggilah ibuku! Aku tidak sanggup melihat penderitaannya. Ya
Allah, aku akan merelakan dengan ikhlas dengan kepergiannya. Amin."
Begitulah
bedanya doa ibu terhadap anak dan doa anak terhadap orang tuanya.
Ketika anak sakit, seburuk apapun kondisinya, walau badan hancur
sekalipun, namun orang tua akan tetap mendoakan semoga anaknya
diselamatkan dan dipanjangkan umurnya.
Tetapi anak-anak yang
dikatakan 'baik' pada hari ini akan mendoakan agar ibu atau bapaknya
yang sakit agar segera diambil oleh Allah, padahal orang tua itu baru
saja sakit. Mereka meminta pada Allah agar segera di panggil ke surga
karena konon sudah tidak tahan melihat 'penderitaan' orang tuanya.
Apa yang akan Anda lakuan jika menghadapi situasi yang seperti ini?
Kompas.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar