Di penghujung hari, aku berdiri di depan jendela kamarku yang sengaja
kubuka sembari memandang bintang yang tidak pernah lelah menghias malam.
Saat ini pukul 11.35 pm tetapi mataku belum juga terpejam. Terlalu
banyak masalah yang sedang memenuhi pikiranku. Ada-saja masalah yang
terjadi dalam hidupku ini. Padahal, aku ingin sehari saja hidup tanpa
masalah. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang memiliki sekedar
keinginan. Aku hanya bisa berdoa dan Dialah yang menentukannya.
Pukul 01.45 am, aku mulai menguap. Aku pun memutuskan untuk tidur.
Sebelum tidur, aku menutup jendela kamarku terlebih dahulu. Setelah itu,
aku merebahkan badanku di atas ranjang. Dan beberapa menit kemudian aku
tebuai dalam mimpi.
Beberapa jam kemudian…
Di pagi buta,
sekitar jam 03.00am, aku terbangun akibat handphoneku bordering dengan
nyaringnya dan mengganggu tidurku. Aku melihat handphoneku, orang yang
menelepon itu adalah Ela, sahabatku. Dia tidak mungkin telepon di pagi
buta seperti ini kalau bukan ada kepentingan mendesak. Aku memutuskan
untuk mengangkat teleponku.
“Fin, ini benar-benar gawat…!” serunya di seberang sana. Dari suaranya, aku tahu dia sedang menghadapi masalah besar.
“kenapa?kenapa?”
“fin…fin…” Dia tak bisa berbicara dengan baik karena nafasnya tersengal-sengal.
“tarik
nafas panjang dan hembuskan, tenangkan dirimu, bicara pelan-pelan.” Aku
memberinya saran atau lebih bisa disebut sebagai instruksi.
Aku
mendengar dia mengikuti instruksiku. Menarik nafas panjang dan
menghembuskannya. Tenang sejenak, beberapa saat kemudian, dia mulai
berbicara dengan pelan-pelan, “laporan dan data penelitian ilmiah kita
hilang.”
Deg. Kenapa bisa hilang? Yang benar saja, laporan itu
telah aku dan Ela buat dengan susah payah. Dan sekarang, semuanya hilang
begitu saja. Aku sebenarnya marah karena dia tak bisa menjaganya dengan
baik. Akan tetapi, aku mencoba untuk menahan amarahku dan bertanya,
“kenapa bisa terjadi?”
“Aku ngga tahu, Fin. Semuanya ilang gitu aja..” jawabnya.
“ya udah, nanti kita cari atau kalau tidak kita buat lagi.”
“Fin, maafin aku, aku ngga bisa jaga sesuatu yang telah kita buat susah payah..” ucapnya dengan penuh penyesalan.
“udah, ngga apa-apa.”
***
Aku
berangkat ke sekolah dengan malas. Aku begitu berantakan. Kulit kusam,
mata berkantung hitam seperti panda. Ini terjadi karena aku kurang
tidur. Aku hanya tidur satu jam lebih 15 menit. Setelah Ela meneleponku,
aku tidak bisa tidur lagi karena memikirkan masalah penelitian ilmiah
itu.
Di koridor kelas, aku bertemu dengan Ela. Wajahnya tidak lebih baik
dari aku. Dia juga sama berantakannya denganku. Saat bertemu denganku,
dia kembali menunjukan penyesalanannya. Aku lihat dia benar-benar
menyesal telah begitu ceroboh. Sebenarnya, ini bukan murni kesalahannya.
Ini juga salahku, kesalahan kami bersama. Kami tidak menjaga dengan
baik sesuatu yang sangat penting ini.
Aku mencoba menenangkannya dan menjelaskan kalau semua ini bukan
murni salahnya. Perlahan-lahan, dia mulai membaik dan tenang. Setelah
benar-benar tenang, aku mengajaknya pergi ke kelas bersama. Di tengah
perjalanan menuju kelas, aku berpapasan dengan Rama. Rama, seseorang
yang minggu kemarin menyatakan cintanya padaku tetapi aku menolaknya.
Aku memiliki segudang alasan kenapa aku menolaknya. Akan tetapi, yang
paling utama adalah aku tidak memiliki perasaan lebih padanya selain
sebagai teman satu sekolah.
Sikap Rama begitu dingin padaku.
Mungkin, dia tidak terima karena aku menolaknya. Selama ini dia memang
terkenal sebagai Prince Charming yang tidak pernah ditolak cewek. Jadi,
kalau dia bersikap dingin padaku, ini tidak terlalu aneh. Akan tetapi,
ada sesuatu yang menurutku sangat aneh. Rama tersenyum dengan manis tapi
terkesan tidak ikhlas pada gadis yang disampingku, Ela, dan Ela
membalasnya dengan senyum manis yang ceria. Biasanya Rama tidak pernah
bersikap seperti ini pada Ela. Melihat saja kadang ogah-ogahan.
“Pagi, Ela.” Ucap Rama, dia bahkan menyapa Ela.
“Pagi juga, Rama.” Ela membalas sapaan Rama.
Aku
menyikut lengan Ela dan menanyakan perihal keanehan Rama. Aku
menanyakannya setelah Rama pergi tentunya. Mana mungkin aku berani
bertanya tentang Rama jika Rama ada di depanku. Dia menjawab
pertanyaanku dengan ketus “memang salah dia menyapaku? Aneh?”. Setelah
menjawab pertanyaanku dengan nada yang tidak mengenakan itu, Ela
langsung pergi meninggalkanku. Dia benar-benar aneh. Tadi raut wajahnya
penuh rasa penyesalan tetapi sekarang dia lebih terlihat marah dan
sebal. Dia marah padaku?
Di kelas, sikap Ela bersikap cuek padaku.
Berbeda 180o dari tadi pagi. Berkali-kali aku berusaha membuatnya
tersenyum dan mau berbicara padaku. Namun, hasilnya nihil. Aku lelah
untuk membujuknya lagi. Besok aku akan mencobanya.
***
Siang
harinya, sepulang sekolah, aku menemui Bu Endang, pembina
Ekstrakurikuler PIR. Aku datang tanpa Ela. Dia langsung menghilang
sesaat setelah bel panjang berbunyi. Aku datang ketempat itu untuk
meminta perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu untuk menyelesaikan
menyelesaikan laporan dan data penelitian. Seharusnya, hari ini sudah
dikumpulkan.
“tunggu disini, sebentar lagi Bu Endang akan datang.”
Ucap salah seorang guru yang juga mengajar di kelasku, namanya Bu
Farida. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ya, Finda…” Orang yang aku tunggu-tunggu telah datang dan menyapaku.
Aku
pun menjelaskan maksud kedatanganku menemui Bu Endang. Bu Endang
mendengarkanku dengan baik. Tak lama kemudian, Bu Endang setuju untuk
memberi tenggang waktu. Akan tetapi, hanya dua hari yang beliau berikan
untuk kelompokku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang
telah diberikan oleh Bu Endang.
“terimakasih, Bu. Sekali lagi terima kasih…” Ucapku pada Bu Endang. Bu Endang tersenyum dengan lembut.
***
Berulang
kali aku menelpon Ela. Akan tetapi, dia tidak mengangkatnya. Dia
sungguh aneh. Aku harus ke rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Aku
pun ke rumah sahabatku itu dengan mengendarai sepeda kesayanganku yang
berwarna hijau.
Ada pemandangan yang cukup menarik saat aku tiba di dekat rumah Ela.
Aku melihat Ela keluar dari sebuah mobil mobil mewah berwarna merah
metallic, Ferrari F70. Di sekolahku, Orang yang memiliki mobil mewah
seharga kurang lebih 10 Miliar itu hanyalah Rama. Ya, mobil itu memang
milik Rama. Aku semakin yakin saat aku melihat Rama keluar dari mobil
itu dan berbicara pada Ela.
Bagaimana mereka bisa sedekat ini? Sungguh aneh dan cukup menarik
perhatianku. Cukup menarik juga untuk diselidiki karena pasti ada
‘sesuatu’ dibalik semua ini. Akan tetapi, aku tidak mungkin
menyelidikinya, tidak mungkin. Ingat, Ela itu sahabatku. Kalaupun memang
benar ada ‘sesuatu’, nanti juga akan terbuka dengan sendirinya tanpa
perlu diselidiki.
Setelah Rama dan mobilnya itu pergi, aku
mendekati Ela. Aku berpura-pura tidak melihat dia datang bersama Rama.
Aku tidak mempedulikannya.
“hi, La. Kamu kok ngga angkat teleponku?” tanyaku pada Ela.
“Emm aku..ngga bawa handphone” jawabnya, terdengar kaku.
“ada kabar bagus buat kita.”
“apa?”
Aku
mencerritakan kabar bahagia tersebut, kesempatan kedua dari Bu Endang.
Dia juga terlihat senang dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya.
Setelah sampai di ruang tamu, dia mempersilahkanku duduk. Sementara dia
mengambil minuman untukku, aku mempersiapkan beberapa bahan yang
diperlukan.
“ini, Fin, minumnya..”
“makasih, La”
Aku
langsung menengguk jus orange yang dibuat oleh Ela. Tenggorokanku yang
sangat kering terasa sejuk saat air jus orange melewati tenggorokanku.
Sedari tadi aku memang haus. Maklumlah, aku mengayuh sepeda dari rumahku
sampai ke rumah Ela yang jaraknya tergolong jauh.
“kita mulai
darimana ya?” tanyaku, Ela hanya diam. Dia malah terlihat melamun. Aku
tidak bisa membaca pikirannya kali ini. Belakangan ini dia memang
bersikap aneh. “Ela..halo halo..” aku mengibas-ibaskan tanganku di depan
wajahnya untuk menyadarkannya dari aktivitas melamunnya.
“eh..ya, Fin..aa apa..?” tanya Ela padaku dengan gugup. Dia seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi buruknya.
“La, apa kamu punya sesuatu yang disembunyikan dariku?” entah mengapa aku bisa bertanya seperti itu pada Ela.
“tidak.”
Jawabnya singkat dan terlihat tidak wajar. Dia memang jarang berbicara
singkat padaku. Akan tetapi, aku berusaha untuk tidak
mempermasalahkannya.
“emm baiklah..ayo kita lanjutkan.”
“baiklah, mari kita lanjutkan.”
Aku
dan Ela berkolaborasi untuk melanjutkan penelitiannya bersama-sama.
Menyusun laporan dan berbagai macam data yang telah hilang.
***
Hari
ini adalah hari dimana aku dan Ela serta kelompok lainnya
mempresentasikan hasil penelitian. Jantungku berdegup lebih kencang
daripada biasanya. Aku merasa laporan dan data yang telah kelompokku
buat tidak sebaik data pertama yang telah hilang. Banyak sekali
kekurangan karena waktu yang kami miliki begitu terbatas. Hanya dua
hari, sedangkan data yang hilang itu membutuhkan waktu lebih dari satu
bulan.
Kelompok yang mendapatkan kesempatan pertama untuk presentasi adalah
kelompok Rama. Rama maju kedepan, dia terliat begitu percaya diri saat
memasukan flashdisknya ke dalam laptop milik sekolah lalu membuka slide
power point milik kelompoknya, tentu saja.
Namun, aku melihat ada keanehan pada slide yang mereka tampilkan.
Isinya aneh. Aku sangat mengenali data yang mereka presentasikan. Data
yang mereka tampilkan sama persis dengan milik kelompokku yang hilang.
Tentu saja, aku sangat tidak terima. Ternyata, Rama yang telah mencuri
data kelompokku.
Ku kepalkan tanganku, geram. Aku ingin sekali
melampiaskan amarahku pada orang itu. Akan tetapi, aku tidak mungkin
melakukannya. Aku harus menahan amarahku. Aku terus menatap Rama tajam
saat dia mempresentasikan data yang bukan miliknya itu. Saat
presentasinya berakhir, semua orang yang ada di ruangan itu memberi
tepuk tangan yang meriah. Rama tersenyum dengan bangganya, begitu juga
dengan teman sekelompoknya. Dua orang itu sama saja.
Kini, tiba saatnya aku dan Ela mempresentasikan hasil kerja kami.
Aku harus yakin presentasi ini berjalan dengan lancar walaupun temanya
sama dengan data yang Rama dan temannya sampaikan. Selama presentasi
berlangsung semua orang yang ada di hadapanku menatap tajam seolah
mempertanyakan kok sama? Dalam hal ini mereka kira aku yang salah.
Padahal, seharusnya bukan aku yang salah tapi Rama. Meski begitu,
presentasi tetap berjalan dengan lancar. Walaupun tidak ada tepuk tangan
meriah saat aku dan Ela mengakhiri presentasi kami.
***
Semua
kelompok yang ada di ruang multimedia sudah menyelesaikan presentasi
mereka. Suasana ruang multimedia menjadi sepi, hanya ada aku dan Rama.
Rama masih sibuk memasukan peralatannya ke dalam tas. Disaat itulah aku
datang menghampirinya.
“ehm…pakai cara apa tuh ngambil datanya?”
tanyaku pada Rama. Rama mendongakkan kepalanya untuk melihatku.
Posisinya sekarang duduk sedangkan aku berdiri.
“cara yang tidak pernah terlintas sedikitpun diotakmu.”
Aku memutar otakku tapi aku tak paham dengan jawabannya. “maksudmu?”
“tanyakan
saja pada sahabatmu.” Jawabnya lagi. Dia menggendong tasnya, lalu
berdiri sebelum akhirnya dia pergi. “oh ya, satu lagi. Aku ngga nyuri
data kamu, aku cuma minta.” Tambahnya sebelum pergi.
***
Keluar
dari ruang multimedia, aku langsung menemui Ela di kelasnya. Dan aku
langsung menanyakan perihal data penelitian. Aku bertanya tanpa berpikir
panjang karena terbawa emosi.
“kamu ya yang ngasih data itu ke Rama?” tanyaku tanpa basa-basi. Ela tidak menjawab pertanyaanku. “data itu ngga hilang ‘kan?”
“kamu nuduh aku?”
“aku tanya bukan nuduh. Atau mungkin memang kamu yang merasa tertuduh.”
Ela
mengeluarkan beberapa kalimat yang berisi pembelaannya. Entah kenapa
dia bersikeras untuk tidak mengakuinya. Padahal, aku sudah tahu kalau
memang dia berbohong. Aku bukan begitu saja mempercayai orang lain
daripada sahabatku. Akan tetapi, bahasa tubuh Ela memang mengatakan
begitu. Dia berbohong.
“baiklah kalau kamu ngga mau mengakuinya.
Tapi, aku udah tahu kok. Aku hanya ingin kamu jujur, jika kamu masih
menganggapku sahabatmu.” aku pasrah.
“iya, memang aku melakukannya.” Ucap Ela setelah lama membisu.
“tapi, kenapa?”
“an interesting offer.”
“maksudnya?”
“kamu
tahu, aku sudah lama menyukai Rama tapi Rama menyukaimu. Sebenarnya,
bukan hanya Rama. Orang yang menyukaimu sebelumnya juga begitu. Aku
menyukai mereka tapi mereka menyukaimu. Aku lelah. Dan hari itu ada
sebuah tawaran menarik dan bodoh dari Rama. Dia mau menuruti apa mauku
asalkan aku bersedia memberikan data-data itu. Aku menerimanya begitu
saja, seperti terhipnotis.” Jelas Ela panjang lebar.
“aku lega, ternyata kamu masih menganggapku sahabatmu. Kamu sudah berkata jujur.” Ucapku lantas memeluknya, pelukan sahabat.
“maafkan aku, La. Aku sudah mengecewakanmu. Menghapus mimpimu untuk ikut lomba PIR tahun ini.”
“sudahlah. Ada data itupun belum tentu lolos.”
***
Hari
pengumuman kelompok pemenang yang akan mengikuti lomba PIR mewakili
sekolah. Semua menunggu dengan jantung yang berdegub lebih cepat
daripada biasanya. Mereka semua ingin terpilih tetapi hanya satu
pasangan yang berhak ikut.
“saya umumkan kelompok yang mewakili
sekolah kita adalah..” Bu Endang sengaja menggantungkan kalimatnya.
“adalah kelompok Finda dan Ela.” Lanjut Bu Endang.
Aku tidak percaya kalau namaku disebut. Begitu juga dengan Ela.
“selamat untuk Finda dan Ela. Untuk yang lain jangan kecewa, masih banyak lomba PIR yang lain..”
Semua
orang yang ada di ruangan tersebut memberi selamat kepadaku dan Ela.
Akan tetapi, itu tidak termasuk Rama. Rama pergi sesaat setelah
pengumuman. Dia terlihat begitu kecewa. Ya, dia sangat menginginkan
kesempatan ini. Akan tetapi, dia telah berbuat curang. Mungkin, itu juga
buah dari kecurangannnya. Curang belum tentu menang.
***
Aku
berbaring di atas rerumputan taman belakang bersama Ela. Malam ini Ela
menginap di rumahku. Kami berdua tengah menatap bintang-bintang yang
sangat indah menghias langit malam. Beberapa hari terakhir kami mendapat
banyak masalah dan saat ini kami sedang merenungi untuk diambil
hikmahnya.
“kau tahu kenapa kita menang?” tanyaku pada Ela yang
tampak tersenyum menatap langit. Dia sudah kembali menjadi sahabatku
yang seperti biasanya.
“karena kita memang ditakdirkan menang.”
“selain itu, kita memang sudah berusaha keras dengan jerih payah kita sendiri.”
“benar.” Dia membenarkan ucapanku. “sekali lagi, aku minta maaf atas kebodohanku.”
“sudahlah, yang penting jangan diulangi dan kita ambil hikmahnya.”
Ela tesenyum padaku , aku juga tersenyum padanya. Suasana mulai hening dan kami terlarut dalam suasana malam.
“kamu
tahu tidak, tenyata Rama ceroboh sekali. Masa kata Bu Endang, dia lupa
ganti nama kita di data yang dia kumpulin.” Kataku, membuka pembicaraan
lagi.
“yang benar?”
“iya, beneran. Maka dari itu Bu Endang curiga, dan kecurigaan terbukti. Ya.. Rama ngaku kalau data itu bukan milik kelompoknya.”
“bodoh sekali dia, sudah susah payah membujukku untuk memberi data itu, eh..dianya ceroboh gitu..”
“buah dari kecurangan.”
“benar.”
Langit
malam menjadi saksi kebahagiaanku. Bintang di langit tersenyum melihat
aku dan sahabatku saling menyatu setelah sebuah masalah menerjang kami.
Setelah masalah itu selesai, aku merasa kami memang sudah ditakdirkan
untuk bersahabat. Walaupun diterjang masalah, kami tetap menyatu. Dan,
setelah menyelesaikan masalah, kami jadi semakin kuat.
Selesai
cerpen ini cerita dari amalya hasyim :)